GHAITSA UFAIRAH THIFALI

image

image

image

image

image

image

image

Iklan

Anak ku 5 bulan 1 hari

Robbi habli minassolihin

Cerita Inspirasi “BAI FANG LI Orang Miskin yang Kaya”

Nggak seperti kiriman inspiratif lainnya, hari ini saya dikirimi sebuah email yg berisi kisah dari negeri Tiongkok oleh seorang adik. Kisahnya sangat menarik untuk disimpan, mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi kita semua.
Selamat menyimak….

Cerita Inspirasi
“BAI FANG LI Orang Miskin yang Kaya”

Namanya BAI FANG LI, orang miskin yang pekerjaannya adalah tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Bai Fang Li melalang di jalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana Bai Fang Li biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu peduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa peduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa peduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan….,” katanya dengan sendu.

Semua guru di sekolah itu menangis….

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ”Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

From Akmil

Anak ku

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Anak ku ini usiamu 15 minggu 1 hari.

Robbi habli minassolihin

Berani Gagal = Berani Sukses

Berani Gagal = Berani Sukses
Penulis: Nistains Odop

Kegagalan terjadi ketika seseorang menjadi penakut, tidak sekreatif sebelumnya, dan cenderung menunggu perintah. Gagal dan sukses merupakan produk pikiran yang dihasilkan salah satunya melalui pengaruh lingkungan. Sebenarnya kegagalan itu sangat baik karena memberi pelajaran yang berharga. Saat kita gagal kita telah mengijinkan diri untuk belajar dari kegagalan itu.

Semangat kegagalan dapat menyemangati diri kita karena tidak ada kegagalan yang dapat membunuh karir kita kecuali kita mundur ditengah jalan. Semangat kegagalan perlu kita pegang erat karena kegagalan bukan merupakan suatu masalah besar, kegagalan mampu memberi semangat untuk bangkit sekali lagi.

Kita adalah tuan atas nasib kita sendiri ketika kita berani menentukan standar hidup yang kita harapkan dukungan positif akan muncul dari berbagai sisi.
Untuk mencapai sesuatu kita harus menanggung resiko. Seorang pemenang akan menanggung resiko paling banyak daripada seorang pecundang. Tidak ada pekerjaan tanpa resiko. Resiko yang muncul harus kita menej dengan arif dan bijaksana sehingga kita bisa bertahan dan sukses. Selain itu perlu mengenyahkan rasa takut karena rasa takut membatasi kreativitas manusia dan menyebabkan mereka tidak berani berbuat banyak.

Aset paling berharga demi meraih kesuksesan hidup adalah diri kita. Selama masih hidup, kita selalu punya peluang untuk menciptakan hidup lebih baik. Aset itu ada di pikiran kita. Sehingga yang namanya gagal dan sukses itu terkontrol oleh diri kita. Satu hal juga yang kadang kita sia-siakan adalah waktu. Perlu kita sdari pentingnya waktu karena itu tidak akan pernah kembali.

Jangan hanya bermain aman karena ketikia rasa aman itu menjadi suatu kebutuhan manusia cenderung tidak mau beranjak dan tetap berada di tempat. Kegagalan dan sukses merupakan proses yang nyata. Kedua hal tersebut masing-masing memberikan warna dalam hidup. Berani mengambil resiko merupakan saat orang mulai berfikir ulang tentang kemampuannya untuk memulai tindakan positif. Menjadi pribadi yang tangguh akan berani berjuang di garis depan dengan segala pengorbanan dan daya upaya.

Walaupun dengan upaya dan pengorbanan yang sangat besar, tetap kegagalan itu masih dapat datang kepada setiap orang.

Beberapa faktor penyebab kegagalan berasal dari dalam diri sendiri. Sikap dan perilaku berperan penting dalam menentukan tingkat kegagalan seseorang. Oleh karena itu kegagalan bukanlah alasan untuk kita melupakan tujuan awal kita meraih sukses. Dengan demikian kita harus berani mencoba dan mencoba terus karena pada akhirnya sikap berani mencoba ini akan membuat diri seseorang tidak mudah terpuruk dengan kegagalannya.

Sebenarnya kesuksesan itu sendiri bukanlah guru yang baik karena kita belum tentu belajar dari kesuksesan tersebut karna mudah merasa puas. Banyak orang terlalu mengagungkan kesuksesan, tetapi lihat ketika seseorang mendapatkan dirinya gagal, mereka merasakan bahwa dunia ini akan rubuh dan menimpanya. Hal itu bisa saja terjadi karena mereka merasa bahwa kegagalan adalah kesalahan bukan ditempatkan sebagai peluang untuk terus memperbaiki diri.

Oleh karena itu jangan takut gagal. Gagal tersebut merupakan bagian dari proses menjadi sukses. Karena tidak ada proses sukses yang instan. Kegagalan sebaiknya kita ambil nilai positifnya, yaitu sebagai sebuah pelajaran berharga, ilmu kehidupan yang nyata, dan guru yang paling baik.
Kesuksesan dan kegagalan akan menghampiri manusia selama dia berkarya. Untuk meraih kesuksesan, kita memerlukan kemauan untuk bertidak. Banyak sumber daya yang bisa digunakan. Contohnya adalah pengetahuan, entah sifatnya formal maupun yang diperoleh berdasarkan pengalaman. Sedangkan kegagalan bukan merupakan suatu hal yang patut ditangisi, karena hal tersebut tidak akan mengubah kegagalan yang telah menimpa kita. Namun kita harus berbesar hati karena kita telah memiliki pengalaman yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.

Bangkit kembali dari kegagalan memang bukan hal yang mudah, namun juga bukan merupakan hal yang mutahil.

Pondasi utama sukses dan gagal adalah kesadaran bahwa hidup merupakan karunia Ilahi. Ada kesadaran murni yang mesti seseorang munculkan dalam diri, jika mengetahui bahwa anda sangat bernilai kenapa harus ragu untuk bergerak maju. Jadi semua manusia haruslah mau menginvestasikan dalam pikiran dan tindakan untuk belajar bagaimana berbuat dan tidak takut gagal.

Karena kita semua harus percaya bahwa kesuksesan bukan sekedar memiliki segalanya, oleh karena itu seseorang harus menemukan kebahagiannya tersendiri dan yang paling penting jangan takut gagal untuk mencari dan memilikinya.

Zaman ini menawarkan kepada kita banyak hal, tetapi hanya berubah atau mati yang merupakan bentuk aplikasi baru dari hukum zaman sekarang. Ketika seseorang tidak mau berubah, mereka akan ditelan oleh perubahan karena perubahan itu sangat terasa dan begitu cepat. Untuk menyikapi hal itu, kita harus ikut dan berkembang dalam sebuah perubahan dunia global.

Perubahan zaman menuntut manusia bergerak serba cepat. Tuntunan zaman juga membuat seseorang merasa ditinggalkan jika terus berfikir konservatif. Dalam hal ini, ketika sebuah perubahan begitu cepat manusia bergerak berlomba-lomba memanfaatkan peluang perubahan itu. Era dimana manusia mengetahui bahwa zaman semakin canggih membuat semuanya serba mudah, cepat, dan efisien…

PERAHU KEHIDUPAN

Pagi ini mendapat tausiyah dari seorang teman lama, alhamdulillah semakin menyejukan hati ini…
Let’s chekidot…
Bismillahirrohmanirrohim
Sebuah perahu dibuat untuk belayar di lautan dan bukan hanya berlabuh diam di dermaga.
Demikian juga manusia, ia tercipta untuk mengarungi kehidupan dan bukan berdiam serta menunggu hidup ini berakhir.
Di dalam mengarungi kehidupan akan banyak ombak dan mungkin badai menerjang, tetapi itulah seni dari kehidupan.
Teruslah kembangkan layar dan nikmati perjalanan hingga sampai ke tujuan.
Jangan takut jatuh, karam dan salah arah, karena setiap kesalahan yang pernah dilakukan adalah bagian dari proses pembentukan kepribadian.
Jangan menyesali kesalahan tetapi jadikan itu sebuah pelajaran.
Mendung bukan untuk membuat kegelapan tetapi untuk memberi kabar gembira akan sejuknya air hujan yang akan turun.
Luka bukan hanya semata untuk membuat kita tersiksa tetapi agar kita tersadar bahwa kita hanyalah “Manusia Biasa”.
Genggamlah “KEYAKINAN” jangan pernah dilepaskan.
Indahnya kehidupan, bukan terletak dari banyaknya kesenangan tetapi pada banyaknya rasa syukur yg kita rasakan…
~KETIKA… Aku ingin hidup KAYA,… aku lupa, bahwa KEHIDUPAN adalah sebuah KEKAYAAN.
~KETIKA… Aku takut MEMBERI,… aku lupa… bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN.
~KETIKA… aku ingin jadi yang TERKUAT, aku lupa,… bahwa dalam KELEMAHAN… pahala BAIK ku telah memberikan aku KEKUATAN
~KETIKA… aku takut RUGI,… aku lupa,… bahwa Hidupku adalah sebuah KEBERUNTUNGAN… karena bisa terlahir sebagai manusia dan mengenal Allah
Ternyata hidup ini sangat indah… jika kita tahu dan Selalu bersyukur dengan apa yang sudah ada…dengan apa yg sudah اَللّهُ amanahkan
Dengan selalu bersyukur, maka KEBAHAGIAAN MENJADI MILIK KITA SEUTUHNYA… Insyaallah

Urutan yang Ke Lima

Hampir semua orang menyangka bahwa aku begitu perhatian kepadamu bun, ntah penilaian apa yang mereka gunakan kepadaku sehingga penilaian positif itu dapat melekat kepadaku…

Ah sudahlah nggak usah dipikirin, aku sudah sangat bersyukur mendapat penilaian itu, karena bukankah laki-laki yang paling baik adalah yang memperlakukan istrinya dengan baik…
Sekarang aku hanya berdoa agar Allah selalu memberikan waktu-waktu berkualitas kepada kita. Setelah waktu-waktu ku digunakan untuk menyembah-Nya, meneladani rasul-Nya, berbakti kepada orangtua kita dan mengabdi untuk pekerjaan-pekerjaan kita…
Bunbun, terima kasih kamu sudah mau pengertian kepadaku. Yang dengan rela bersedia menjadi urutan yang ke lima dalam hidupku. Entah jika nanti suatu saat kita memiliki buah hati, bersediakah engkau menjadi urutan yang ke enam? ^^
Dari Imam-mu, yang mencintai-mu karena Allah…
Parangtritis

Parangtritis

UANG (Renungan Hidup)

Namaku UANG (DUIT), wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia. Aku juga “bisa” merubah Perilaku, bahkan sifat Manusia’ karena manusia mengidolakan aku. 

Banyak orang merubah kepribadiannya,­­­­ mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!

Aku tdk mengerti perbedaan orang saleh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin & terhormat atau terhina.

Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.

Aku juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara2 aku. Anak dan orangtua berselisih gara2 aku.

Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku spt Tuhan, bahkan kerap kali hamba2 Tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah pesan jgn jadi hamba uang..

Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?

Aku tdk pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku.

Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tdk mampu memperpanjang hidup anda.

Kalau suatu hari anda dipanggil Tuhan, aku tdk akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa2 anda, anda harus menghadap sendiri kpd sang Pencipta lalu menerima penghakimanNYA.

Saat itu, Tuhan pasti akan hitung2an dgn anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dgn baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN?

Ini informasi terakhirku: 

Aku TIDAK ADA DI SURGA,

Jadi jangan cari aku di sana.

Salam Bijak

.̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐ ̸̷ ̷̸

UANG

Menjadi Tualah Bersamaku

Hari ini genap 16 hari kita tinggal bersama…

Saat bersama, begitu banyak rasa rindu yg membuncah…

Seolah-olah jiwa dan raga ini tidak ingin berpisah…

Sepertinya perjalanan akan baik-baik saja…

Ah kata orang karna kita pengantin baru saja…

Katanya lagi belum saja semuanya terbuka…

Seolah-olah mereka menginginkan kita merasakan kekurangan yang sama…

Ingatkah dinda pagi tadi ketika engkau mengatakan, “Ingin sehari lebih dari 24 jam…”

Muncul juga sebuah perasaan yang sama…

Perasaan yg ingin selalu bersama atau bahkan jika bisa jauh lebih lama…

Perasaan kerinduan yang insyaallah timbul dari frekuensi kasih sayang yg sama…

Tahukah engkau, aku tidak ingin kehilangan rasa ini…

Meskipun suatu saat kita akan berkali-kali berbeda pendapat…

Meskipun suatu saat engkau menemukan ketidaksukaanmu padaku…

Meskipun suatu saat aku akan menyakiti hatimu…

Aku ingin sekali menjaga perasaan ini karena aku meyakini, engkau akan menjadi tua bersamaku…

(Manggarai, 16 Mei 2013

 

IMG-20130616-00454

Selamat milad sayang, semoga usianya semakin barokah dan hidupnya semakin bermanfaat

Aku yang mencintaimu karena Allah.

Resume ‘Negeri Di Ujung Tanduk’ (Tere Liye)

Image

Novel Negeri Di Ujung Tanduk Karya Tere Liye

Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi…

Di Negeri di Ujung Tanduk para penipu menjadi pemimpin, para penghianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian…

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir demi membela kehormatan…

Akhirnya dapet juga novelnya om Tere Liye yang baru, novel yang katanya tidak akan membicarakan soal percintaan melulu. Tapi menurut saya itu nggak kebukti, om Tere Liye tetap mengemas kisah kasih darisudut pandang yang lain. Sudut pandang kebijaksanaan…

Ok, pengen sedikit bercerita aja tentang novel ini. Novel ini menceritakan sosok seorang konsultan politik bernama Thomas yg menjadi tokoh utama. Tokoh dengan segala kelebihannya setelah melewati begitu banyak tantangan. Seorang pemuda kaya raya yang berhasil membangun kredibilitasnya sebagai seorang penyedia jasa ‘konsultasi’. Seiring dengan semakin sukses usaha konsultannya, maka ia memutuskan untuk membuat sebuah unit bisnis yang bernama jasa konsultan politik. Menurutnya politik adalah ‘bisnis’ masa depan…

Singkat cerita, akhirnya ia bertemu dengan seorang klien politik yang akan menyalonkan diri sebagai seorang presiden. Sebuah pertemuan yang segera merubah sudut pandangnya 180 derajat. Motivasi yang awalnya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, berubah 180 derajat untuk memperbaiki kondisi negeri yang semakin bobrok. Seperti apakah sosok presiden ini…?

Akhirnya dimulailah perjuangan tim ini untuk memperebutkan posisi kursi nomor satu di negeri ini. Tidak semudah seperti membalik telapak tangan, maka perjuangan yang ditempuh ini jauh lebih berat dan tak terbayangkan. Mereka harus berhadapan dengan ‘mafia hukum’ yang tidak ingin calon presiden yang mereka usung menang…

Sebuah kisah fiksi realitapolitik hari ini…

Ingin tahu lebih jauh kisah mereka, silahkan baca novelnya. Recomended banget 🙂

Ini sekuel novel sebelumnya yang dirilis bulan Juli 2012.

NovelNegeri Para Bedebah

Novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye

Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata…
Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah…
Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat…